Pendahuluan
Dalam beberapa bulan terakhir, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) ramai dibicarakan karena lonjakan kasusnya di berbagai daerah.
Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), musim kemarau panjang, serta kepungan debu membuat udara yang kita hirup makin tidak sehat.
Artikel ini membahas ISPA secara menyeluruh, mulai dari data situasi terkini, penyebab, gejala, langkah pencegahan, hingga panduan penanganan di rumah dan kapan harus segera mencari pertolongan medis.
Data dan Situasi Terkini
Kondisi udara buruk yang melanda sejumlah wilayah memicu lonjakan angka pasien gangguan pernapasan secara signifikan:
Skala Nasional: Kemenkes mencatat 401.586 kasus ISPA kumulatif akibat karhutla di 7 provinsi dan 63 kabupaten/kota (data per 2 November 2026), termasuk penambahan 3.906 kasus baru.
Memasuki musim kemarau 2026, kasus nasional melonjak lebih dari 400 ribu kasus per minggu dibanding periode yang sama tahun 2025, dengan Jawa Barat sebagai provinsi dengan kasus tertinggi.
Lonjakan di Berbagai Daerah:Kalimantan Barat: Menyumbang 49.424 kasus selama September hingga Oktober 2026.
Palembang: Kasus mingguan naik bertahap dari 3.807 (minggu keempat Agustus) menjadi 4.104, lalu mencapai 4.326 pada awal September.
Bantul: Mengalami lonjakan dari 2.208 kasus pada minggu ke-34 menjadi 3.140 kasus pada minggu ke-37.
Kota Sorong: Angka tahunan naik dari 21.882 kasus (2025) menjadi 23.482 kasus (2026).
Bandarlampung: Lonjakan drastis dari 527 kasus (4 September) menjadi 716 kasus (7 September 2026) akibat dampak erupsi Anak Krakatau.
Perkembangan Terkini: Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) membenarkan adanya kenaikan signifikan kasus ISPA di daerah terdampak karhutla.
Kabar baiknya, di Mappi (Papua Selatan), kasus mulai turun seiring hujan yang rutin turun memasuki November. Meskipun hujan membantu membersihkan udara, kewaspadaan masyarakat harus tetap dijaga.
Apa Itu ISPA?
ISPA adalah infeksi akut yang menyerang saluran pernapasan, mulai dari hidung, tenggorokan, dan laring (saluran napas atas) hingga bronkus dan paru-paru (saluran napas bawah).
Penyakit ini disebut “akut” karena sifatnya yang berlangsung cepat, umumnya kurang dari 14 hari.
Secara medis, ISPA dikelompokkan menjadi dua bagian utama:
Saluran Napas Atas: Common cold (batuk pilek biasa), faringitis (radang tenggorokan), tonsilitis (amandel), sinusitis, dan otitis media (infeksi telinga tengah).
Saluran Napas Bawah: Bronkitis akut, bronkiolitis, dan pneumonia (paru-paru basah).
Poin Kunci: ISPA yang ringan biasanya dapat sembuh sendiri (self-limiting disease). Ancaman terbesar adalah ketika ISPA berkembang menjadi pneumonia, yang sangat berbahaya bagi anak kecil dan lansia.
Penyebab, Dampak Kabut Asap, dan Cara Penularan
Penyebab Utama
Virus (Penyebab Terbanyak): Rhinovirus, virus influenza, Respiratory Syncytial Virus (RSV), Adenovirus, dan Coronavirus.
Bakteri: Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae. Bakteri sering menyerang sebagai infeksi sekunder saat daya tahan tubuh menurun pasca-infeksi virus.
Iritan & Polusi Udah: Asap kebakaran hutan, asap rokok, polusi kendaraan, debu jalanan, serta asap dapur berbahan bakar kayu.
Mengapa Asap Karhutla Memperparah ISPA?
Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5, karbon monoksida, dan gas iritan. Partikel super kecil ini mampu menembus masker kain biasa dan masuk jauh ke dalam saluran napas, sehingga:
Merusak lapisan pelindung silia pada saluran napas, membuat kuman lebih mudah menginfeksi.
Memicu peradangan lokal yang parah dan produksi lendir atau dahak berlebih.
Memperburuk kondisi pasien yang sudah memiliki riwayat asma, PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis), maupun penyakit jantung.
Cara Penularan
Droplet: Percikan air liur yang keluar saat penderita batuk, bersin, atau berbicara dalam jarak dekat.
Udara (Airborne): Mikroorganisme penyebab yang melayang dan bertahan di udara pada beberapa jenis infeksi.
Kontak Tidak Langsung: Menyentuh permukaan benda atau tangan yang terkontaminasi kuman, lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut sendiri sebelum mencuci tangan.
Faktor Risiko
Kelompok dan kondisi lingkungan yang meningkatkan kerentanan terhadap serangan ISPA meliputi:
Faktor Usia: Bayi, balita, dan lansia.
Kondisi Kesehatan & Nutrisi: Anak dengan status gizi kurang, tidak mendapatkan ASI eksklusif, atau status imunisasi dasarnya tidak lengkap.
Komorbid: Memiliki penyakit penyerta seperti asma, PPOK, gangguan jantung, atau diabetes.
Paparan Lingkungan: Kerap terpapar asap rokok dan polusi udara tinggi.
Faktor Tempat Tinggal: Rumah yang padat penghuni, lembap, atau memiliki sistem ventilasi yang buruk.
Imun Rendah: Daya tahan tubuh menurun akibat kurang tidur, stres berat, atau malnutrisi.
Gejala ISPA dan Tanda Bahaya
Gejala Umum
Batuk (kering maupun berdahak), pilek, dan hidung tersumbat.
Bersin, sakit tenggorokan, dan suara serak.
Demam, badan pegal-pegal, lemas, serta nafsu makan menurun.
🚨 Tanda Bahaya (Segera Bawa ke Fasilitas Kesehatan)
Jangan menunda untuk membawa pasien ke dokter atau puskesmas jika ditemukan tanda-tanda berikut:
Napas cepat, sesak napas, atau napas yang mengeluarkan bunyi (wheezing/mengi).
Terlihat tarikan dinding dada ke dalam (retraksi dada) saat bernapas.
Bibir, lidah, atau ujung jari tampak kebiruan (sianosis akibat kekurangan oksigen).
Demam tinggi yang menetap dan tidak turun selama lebih dari 3 hari.
Anak tampak sangat lemas, menolak minum atau menyusu, atau mengalami kejang.
Batuk berat yang menetap, tidak membaik, atau justru makin parah dari hari ke hari.
Panduan Langkah Pencegahan
1. Proteksi Diri Saat Kabut Asap Melanda
Gunakan Masker yang Sesuai: Pakai masker standar N95 atau KN95 yang pas di wajah (fit test). Masker kain biasa tidak efektif menyaring partikel halus PM2.5.
Batasi Aktivitas Luar Ruangan: Hindari keluar rumah jika tidak mendesak, terutama bagi kelompok rentan (anak-anak, lansia, dan ibu hamil).
Kondisikan Rumah Tetap Aman: Tutup rapat pintu dan jendela saat asap pekat. Penggunaan air purifier atau ruangan dengan filter udara HEPA sangat membantu menjaga kebersihan udara dalam ruang.
Pantau ISPU: Cek Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di daerah Anda secara berkala sebelum merencanakan aktivitas.
2. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Cuci tangan secara berkala dengan sabun dan air mengalir.
Terapkan etika batuk dan bersin yang benar (tutup mulut dan hidung dengan tisu atau lipatan siku bagian dalam).
Berhenti merokok dan pastikan diri terhindar dari paparan asap rokok (perokok pasif).
Jaga kebersihan lingkungan rumah serta pastikan sirkulasi udara tetap terjaga baik.
3. Penguatan Daya Tahan Tubuh
Konsumsi makanan bergizi seimbang, perbanyak porsi buah dan sayur sebagai sumber antioksidan.
Cukupi kebutuhan air putih harian untuk menjaga kelembapan mukosa saluran napas.
Istirahat dan tidur yang cukup, serta lakukan olahraga ringan secara rutin.
Pastikan imunisasi dasar anak lengkap, dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan mengenai kebutuhan vaksin tambahan seperti vaksin influenza dan pneumokokus (PCV).
Penanganan Awal di Rumah (Untuk Gejala Ringan)
Istirahat Total & Hidrasi: Pastikan penderita beristirahat dengan cukup dan perbanyak minum air putih atau cairan hangat untuk mengencerkan lendir.
Kondisi Kamar: Jaga ruangan tidur tetap bersih, bebas debu, memiliki kelembapan yang cukup, dan berventilasi baik.
Nutrisi Anak: Tetap berikan makanan bergizi dan lanjutkan pemberian ASI pada bayi guna menyuplai antibodi alami.
Obat Bebas: Gunakan obat bebas (seperti parasetamol untuk meredakan demam/nyeri) sesuai dengan aturan pakai pada kemasan atau anjuran apoteker/tenaga kesehatan.
Pantau Ketat: Selalu amati perkembangan gejala. Jika kondisi tidak kunjung membaik atau muncul salah satu tanda bahaya, segera periksakan ke dokter.
Peringatan Penting: Jangan pernah mengonsumsi atau memberikan antibiotik secara sembarangan tanpa resep dokter.
Mayoritas kasus ISPA disebabkan oleh virus, sehingga antibiotik tidak akan efektif.
Penggunaan antibiotik yang tidak tepat justru berbahaya karena memicu resistensi antibiotik (bakteri menjadi kebal).
Bagi pasien anak, selalu cek dosis obat pada label kemasan atau tanyakan langsung kepada dokter/apoteker.
Mitos dan Fakta Seputar ISPA
Mitos
Fakta
ISPA hanya menyerang anak-anak.
Semua kelompok usia bisa terkena ISPA, meskipun anak-anak dan lansia memiliki tingkat kerentanan yang jauh lebih tinggi.
Batuk dan pilek harus selalu diobati dengan antibiotik.
Antibiotik hanya bekerja melawan bakteri. Sebagian besar ISPA dipicu oleh virus, sehingga penggunaannya harus berdasarkan diagnosis dokter.
Jenis masker apa saja sama efektifnya untuk menangkal asap.
Partikel halus asap (PM2.5) hanya bisa disaring secara optimal oleh masker dengan filtrasi tinggi seperti N95/KN95 yang melekat rapat pada wajah.
Jika tubuh tidak demam, berarti bukan terkena ISPA.
ISPA dapat bermanifestasi tanpa demam, misalnya hanya berupa gejala batuk, pilek, atau hidung tersumbat.
Peran Masyarakat dan Pemerintah
Penanganan lonjakan kasus ISPA akibat polusi dan karhutla memerlukan kolaborasi dari berbagai pihak.
Dari sisi medis, pemerintah telah bergerak aktif dengan mengerahkan tenaga kesehatan langsung ke wilayah-wilayah terdampak. Kemenkes tercatat telah mengirimkan 1.898 tenaga kesehatan untuk merespons 151 ribu kasus ISPA yang terjadi akibat karhutla pada September lalu.
Namun, penanganan jangka panjang berada di tangan masyarakat dan kesadaran lingkungan. Mencegah pembakaran lahan, menghentikan kebiasaan membakar sampah rumah tangga, serta aktif menjaga kelestarian lingkungan sekitar adalah kunci utama memutus rantai polusi udara demi menekan angka kasus ISPA di masa depan.
Kesimpulan
ISPA sering kali dianggap sebagai penyakit ringan yang remeh, padahal infeksi ini berpotensi fatal jika berkembang menjadi pneumonia pada kelompok rentan.
Kunci utama menghadapi situasi ini adalah dengan mengenali gejalanya sejak dini, memproteksi diri dari paparan asap dan polusi udara, serta menjaga kekebalan tubuh tetap optimal.
Segera kunjungi fasilitas kesehatan jika Anda menemui tanda bahaya pada pasien.
Bagaimanapun juga, melakukan pencegahan jauh lebih mudah, aman, dan murah daripada mengobati. (*)
Penulis: Rizki Januar Hakiki ,Nabila Rahmadhani – Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan, STIKES Widya Dharma Husada Tangerang



