SURABAYA, parlemenbanten.com – Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Dr. Ir. Hasto Kristiyanto, M.M. menegaskan bahwa kualitas demokrasi Indonesia hanya dapat dijaga apabila seluruh proses politik, terutama pemilu, berlangsung secara bebas, jujur, adil, dan terbebas dari segala bentuk intervensi kekuasaan.
Pernyataan tersebut disampaikan Dr. Ir. Hasto Kristiyanto, M.M. sebelum menghadiri Sidang Terbuka Promosi Doktor Pangi Syarwi, S.IP., M.IP. di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga, Surabaya, Senin (20/7/2026). Pangi mempertahankan disertasinya berjudul “Suatu Studi tentang Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Split Ticket Voting pada Pemilu Serentak di Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Timur”.
Sidang terbuka tersebut dihadiri sejumlah tokoh nasional, di antaranya H. Ganjar Pranowo, S.H., M.I.P. (Tokoh Nasional / Mantan Capres), H. Mohamad Guntur Romli (Juru Bicara PDI Perjuangan) dan Deni Wicaksono, S.Sos. (Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur / Wakil Ketua DPRD Jawa Timur)
Hadir pula para akademisi senior dan pakar politik nasional yang bertindak sebagai tim penguji dengan titel akademik lengkap, yaitu Prof. A. Ramlan Surbakti, Drs., M.A., Ph.D.,Prof. Dr. Muhammad Asfar, Drs., M.Si.,dan Prof. Dr. R. Siti Zuhro, M.A.
Kehadiran para tokoh politik dan akademisi tersebut menunjukkan pentingnya ruang akademik sebagai forum untuk menguji berbagai persoalan demokrasi secara terbuka, objektif, dan ilmiah.

Menurut Hasto Kristiyanto, forum akademik memiliki posisi strategis dalam membaca dan menguji berbagai fenomena politik, mulai dari perubahan perilaku pemilih, pelemahan institusi politik, hingga tantangan terhadap ketahanan demokrasi Indonesia. “Demokrasi yang sehat membutuhkan institusi politik yang kuat, partai yang terlembaga, serta pemilu yang berlangsung tanpa intervensi negara maupun penyalahgunaan kekuasaan. Pemilu tidak boleh diarahkan untuk mempertahankan kepentingan kekuasaan, karena hakikatnya merupakan sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat,” ujar Hasto.
Ia menjelaskan bahwa penguatan kelembagaan partai politik memiliki hubungan erat dengan party resilience sekaligus democracy resilience. Demokrasi akan menjadi rapuh apabila politik terlalu bergantung pada figur, kekuatan modal, mobilisasi aparatur, maupun campur tangan negara dalam kompetisi politik.
Karena itu, Hasto menilai seluruh tahapan pemilu harus dijaga agar berlangsung independen, mulai dari Penyusunan regulasi,Proses pencalonan dan masa kampanye,Penggunaan fasilitas negara serta Proses pemungutan hingga penghitungan suara.
Seluruh institusi negara harus berdiri netral dan memastikan setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama dalam kontestasi politik. “Ketika negara ikut campur terlalu jauh dalam kompetisi politik, yang rusak bukan hanya satu partai atau satu peserta pemilu, melainkan kepercayaan rakyat terhadap demokrasi itu sendiri,” tegasnya.
Hasto juga mengaitkan persoalan tersebut dengan peringatan Peristiwa 27 Juli 1996 (Kudatuli) yang akan diperingati PDI Perjuangan dalam waktu dekat. Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi pelajaran sejarah mengenai bahaya campur tangan negara terhadap kehidupan politik, kebebasan berserikat, dan independensi partai politik. “Peristiwa 27 Juli mengajarkan bagaimana kekuasaan dapat menciptakan konflik internal partai, membungkam suara kritis, mengontrol pemberitaan, serta mencari kambing hitam atas persoalan yang justru lahir dari tata kelola kekuasaan yang otoriter,” katanya.
Menurut Hasto, peringatan 27 Juli bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi membangun kesadaran kolektif agar praktik-praktik otoritarianisme tidak kembali tumbuh dalam wajah yang baru. “Otoritarianisme hari ini tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan terbuka. Ia dapat muncul melalui pembatasan ruang kritik, pelemahan masyarakat sipil, penggunaan hukum secara selektif, kontrol terhadap ruang publik, hingga penyempitan kebebasan berekspresi,” ujarnya.
Politisi asal Yogyakarta tersebut menegaskan bahwa kebebasan berpendapat, berserikat, berkumpul, pers, dan kebebasan akademik merupakan fondasi utama demokrasi yang wajib dirawat. “Demokrasi memerlukan kritik. Demokrasi memerlukan checks and balances serta alternatif-alternatif kebijakan. Bahkan kebijakan yang diklaim baik untuk rakyat tetap harus diuji dari sisi filosofi, strategi, operasionalisasi, pengawasan, hingga manfaatnya bagi masyarakat. Stabilitas yang dibangun dengan membungkam kritik bukanlah stabilitas demokratis,” tegasnya.
Di sisi lain, Hasto mengapresiasi penelitian Pangi Syarwi yang melibatkan 1.600 responden di Sumatera Barat dan NTT. Penelitian tersebut menguji pengaruh orientasi isu, personalisasi kandidat, party identification, dan persamaan orientasi kepentingan terhadap fenomena split ticket voting. Menurutnya, temuan tersebut memperkuat pentingnya pelembagaan partai politik di tengah meningkatnya tren personalisasi politik saat ini. “Demokrasi Indonesia tidak boleh hanya bertumpu pada figur. Demokrasi harus dibangun melalui pelembagaan partai, kaderisasi, kepemimpinan yang berideologi, serta budaya politik yang menghormati kebebasan berpikir dan partisipasi rakyat,” urainya.
Sebagai penutup, Dr. Ir. Hasto Kristiyanto, M.M. menambahkan bahwa PDI Perjuangan akan terus mendorong budaya akademik, pendidikan politik, kaderisasi, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia demi memperkuat pilar demokrasi bangsa. “Tidak ada kekuasaan yang abadi. Yang akan dikenang sejarah adalah apakah kekuasaan itu memperkuat demokrasi atau justru melemahkannya. Karena itu, pemilu harus dijaga tanpa intervensi, kritik harus dihormati, dan kebebasan berpendapat harus tetap menjadi napas kehidupan demokrasi Indonesia,” pungkas Hasto. (sg )



