MEMAKNAI SIKAP BERTOLERANSI SEBAGAI PERWUJUDAN KEBAIKAN
Penulis : Andi Salim
Sesungguhnya kebaikan itu bukan milik suatu golongan,keyakinan apalagi agama. Tanpa landasan itu semua, manusia memang mampu melakukan itu oleh karena sejak lahirnya memiliki kasih sayang dan parameter lain yang melekat terhadap dirinya. Bahkan seekor hewan sekalipun bisa mampu melakukannya dari berbagai peristiwa yang sering tertangkap kamera melalui pengamatan yang dilakukan seseorang hingga ditayangkan sebagai video mainstream diberbagai media, walau tidak memiliki petunjuk tertulis yang bisa mereka jadikan sandaran seperti kitab suci atau berbagai literasi yang bisa dijadikan rujukan olehnya sekalipun. Karenanya, sadarilah bahwa kebaikan bukanlah wilayah klaim-klaiman yang bisa dikangkangi oleh suatu golongan manapun tak terkecuali manusia dengan segala kesempurnaannya.
Sehingga seorang yang beragama serta sekaligus memiliki keyakinan, tidak perlu merasa jumawa untuk terlalu bangga dan congkak jika kebaikan itu adalah buah dari apa yang mereka dapatkan dari caranya dalam mengimani atau meresapi buah pelajaran apapun. Sebab agama tak lain sekedar meluruskan kebaikan yang diarahkan agar sesuai kepada petunjuk kebenaran. Namun disisi yang berbeda, agama justru menjadi pembatasan akan kebaikan dari caranya menegakkan kebenaran itu sendiri. Maka, pada konteks ini, tak jarang agama mengungkapkan kebenarannya itu dari caranya dalam menghalangi kebaikan itu sendiri. Akan tetapi, jauh dibalik itu semua pula, bahwa ada banyak pengakuan yang menyebutkan bahwa agama menjadi cara untuk mendatangkan kelembutan hati dari mereka yang meresapi persesuaian antara pikiran, ucapan, dan tindakan melalui perasaannya.
Itu baru sekelumit ungkapan yang sengaja penulis utak atik agar siapa saja yang membaca tulisan ini menjadi tidak kaku apalagi mereka yang merasa kesulitan mengkomunikasikan aliran pikirannya agar bisa mengalir. Toh pada fakta lain, manusia justru belajar kebaikan dan memahami pembuktian keberadaan Tuhan sekalipun dari bagaimana alam yang mengajarinya. Termasuk pelajaran tentang kesabaran seperti halnya sebuah pohon yang terus menerus dipetik buahnya tanpa sedikitpun menikmati apa yang dihasilkannya. Atau tentang menunduknya padi yang semakin menguning dengan bulirnya yang semakin terisi penuh, hal ini pun menjadi filosofi hidup yang menggambarkan bahwa semakin banyak seseorang memiliki ilmu, maka biasanya justru akan semakin menundukkan diri serta rendah hatinya.
Tak bisa dipungkiri jika manusia akan kehilangan kelembutan hatinya manakala manusia justru semakin tamak dan begitu serakah bila pada faktanya memakan sendiri seluruh hasil yang didapatnya tanpa mau berbagi dengan orang lain bahkan terhadap lingkungannya. Hal itu berbanding terbalik dengan pohon yang berbuah sebagaimana penulis sebutkan diatas. Oleh karenanya, mempelajari kitab suci tanpa melandasi kesesuaiannya terhadap alam hanya menjadikannya sebagai khayalan dan ilusi kebenaran untuk diyakini. Sebab bagaimana pun kebaikan manusia sudah seharusnya ditanam pada petak-petak sawah dan ladang dimana dirinya menjalani hidup di dunia ini, walau dengan batasan-batasan kebenaran yang diajarkan kepadanya guna meluruskan kebaikan itu sendiri. Inilah pemahaman dari bagaimana keterkaitan manusia dengan segenap alam yang mengiringi hidupnya.
Tanpa kebenaran manusia cenderung menjadi keliru dan salah menafsirkan kebaikannya. Namun sebaliknya, tanpa nilai kebaikan, lantas apa yang sesungguhnya ingin ditebarkan. Sama halnya ketika orang baik yang ingin menduduki jabatan politis melalui keikutsertaannya sebagai anggota partai. Jika niatnya semula ingin mendistribusikan keadilan dalam berbagai hal secara merata bagi masyarakat yang dibawahinya, namun pasca kekuasaan itu telah diraihnya, maka keadaannya pun menjadi bergeser oleh tarikan kepentingan dan berbagai himpitan persoalan yang melilit dan membelenggunya, hingga tidak lagi fokus pada tujuan semula. Bahkan tak jarang pula banyak dijumpai para pejabat itu justru hanya menikmati hasil yang didapatnya untuk semata-mata memakmurkan dirinya sendiri tanpa mau berbagi dengan masyarakat disekitarnya.
Pada point ini, penulis ingin menyampaikan bahwa kebenaran itu sesungguhnya diyakini sebagai batasan kebaikan. Namun pada prakteknya kebenaran tidak lagi menjadi sesuatu yang dianggap keramat sehingga siapa saja yang sekarang ini dengan bebasnya melintasi batasan itu. Apa yang dianggap baik dengan gampangnya ditebar-tebar kesana kemari walau hal itu sebatas persepsi seseorang dan pada tujuan dalam mewujudkan kebaikannya itu menjadi kurang tepat serta presisi terhadap aturan kebenaran itu sendiri. Maka tidak heran jika kebaikan seseorang justru dianggap plin-plan manakala menebarkan kebaikan kepada tempatnya yang kurang tepat, sehingga kebaikan sering disalahartikan atau dianggap sebagian orang telah mengingkari kebenaran. Dari sinilah kata pragmatisme itu bisa digunakan untuk mengukur konsistensi kebaikan dari diri seseorang.
Sebab dalam kaidah kebenaran akan merunut jalan cerita panjang dibalik tersematnya sebuah anggapan bahwa kebaikan yang ditebarkan harus sesuai dengan peruntukan terhadap objeknya atau kepada diri siapa kebaikan itu ditujukan guna dinilai atau menilainya. Namun, sesungguhnya penegakkan suatu sanksi atau hukuman terhadap jalannya proses keadilan hanya dapat dilakukan melalui pertimbangan kebenaran, sedangkan pemerataan keadilan hanya bisa dijalankan berdasarkan nilai-nilai dari sisi kebaikan. Oleh karenanya kebenaran tidak melakukan seleksi atas penerapannya, berbeda dengan kebaikan yang mengurai berbagai persoalan dengan kepatutan dan kelayakan pada sisi tujuannya. Maka, sebagai bagian akhir dari tulisan ini, serta melalui bentangan ungkapan panjang yang penulis sampaikan, tentu tidak sulit bagi pembaca untuk mengambil kesimpulan dibalik sulitnya sikap bertoleransi saat ini.
Bagaimana pun sikap bertoleransi hanya bisa ditegakkan melalui sikap kebaikan para pihak yang dipancarkan dari lubuk hati seseorang yang paling dalam untuk menerima semua perbedaan yang ada tanpa melihat nilai-nilai atau merunutnya dari esensi kebenaran yang serba kaku dan dibatasi oleh kacamata agama, budaya, suku dan disparitas lain yang membelenggunya. Sama halnya dengan kebaikan yang merentang kepada segala persoalan, meski dibatasi oleh kebenaran, namun sudah barang tentu terdapat kepatutan dan kelayakan dalam penerapan sikap bertoleransi yang secara harmoni mampu diwujudkan kedalam berbagai elemen dan lapisan masyarakat. Apalagi terhadap wujud persatuan dan kesatuan bangsa atau biasa dikenal dengan istilah Wathaniyah, maka sudah barang tentu sikap bertoleransi merupakan perpaduan mendasar dari semua perbedaan yang ada. Walau dibalik itu, hal tertinggi yang perlu diperjuangkan adalah mencapai titik kesetaraan. (*)



