Dari Emansipasi ke Realita: Membaca Ulang Kartini di Era Modern
Oleh : Tika Dian Pangastuti, S.S.,M.M. (Sekretaris Jenderal Pergerakan Sarinah)
Peringatan Hari Kartini setiap tahun sering kali terjebak dalam simbolisme: kebaya, lomba, dan seremoni. Namun, pertanyaan yang lebih penting justru jarang diajukan apakah cita-cita emansipasi yang diperjuangkan Kartini benar-benar telah terwujud dalam kehidupan perempuan masa kini? Atau justru kita hanya merayakan nama besar tanpa benar-benar melanjutkan perjuangannya?
Kartini berbicara tentang pendidikan, kebebasan berpikir, dan kesempatan yang setara bagi perempuan. Dalam konteks zamannya, gagasan tersebut sangat revolusioner. Hari ini, secara kasat mata, banyak kemajuan telah dicapai. Perempuan memiliki akses pendidikan yang lebih luas, terlibat dalam dunia kerja, bahkan memimpin di berbagai sektor. Namun, realita tidak sesederhana itu.
Di balik capaian tersebut, masih terdapat ketimpangan yang nyata. Perempuan sering kali dihadapkan pada beban ganda dituntut sukses secara profesional sekaligus memenuhi ekspektasi domestik yang tidak proporsional. Di dunia kerja, kesenjangan upah dan peluang masih terjadi. Sementara di ruang sosial, perempuan kerap dinilai dari standar yang lebih ketat dibanding laki-laki. Ini menunjukkan bahwa emansipasi belum sepenuhnya menjelma menjadi keadilan yang utuh.
Lebih jauh lagi, era digital menghadirkan tantangan baru yang mungkin tidak pernah dibayangkan oleh Kartini. Media sosial, misalnya, menjadi ruang yang ambivalen. Di satu sisi, ia membuka peluang bagi perempuan untuk bersuara, berkarya, dan membangun jejaring. Namun di sisi lain, ruang ini juga memperbesar tekanan sosial, standar kecantikan yang tidak realistis, hingga maraknya kekerasan berbasis gender secara daring. Perempuan modern tidak hanya berjuang di ruang fisik, tetapi juga di ruang virtual yang tak kalah kompleks.
Membaca ulang Kartini di era modern berarti tidak sekadar mengenang, tetapi juga mengkritisi. Apakah kebijakan, sistem pendidikan, dan budaya kita sudah benar-benar berpihak pada perempuan? Ataukah masih menyisakan bias yang menghambat potensi mereka? Emansipasi seharusnya tidak berhenti pada akses, tetapi juga mencakup rasa aman, penghargaan, dan kesempatan yang adil untuk berkembang.
Yang sering terlupakan, perjuangan Kartini bukan hanya tentang perempuan melawan laki-laki, tetapi tentang membangun masyarakat yang lebih adil secara keseluruhan. Oleh karena itu, keberpihakan pada perempuan bukan hanya tanggung jawab perempuan itu sendiri, melainkan tanggung jawab Bersama keluarga, institusi pendidikan, dunia kerja, hingga negara.
Hari ini, semangat Kartini perlu diterjemahkan dalam bentuk yang lebih konkret: kebijakan yang melindungi perempuan, ruang kerja yang inklusif, pendidikan yang membebaskan, serta budaya yang menghargai pilihan hidup perempuan tanpa stigma. Tanpa itu semua, peringatan Kartini akan terus berulang sebagai rutinitas tahunan yang kehilangan makna.
Pada akhirnya, membaca ulang Kartini adalah ajakan untuk jujur melihat realita. Kita memang telah melangkah maju, tetapi perjalanan menuju kesetaraan sejati masih panjang. Kartini telah membuka pintu, kini pertanyaannya adalah: apakah kita berani melangkah lebih jauh, atau justru nyaman berdiri di ambang tanpa perubahan berarti?



