TANGERANG SELATAN,PARLEMENBANTEN.COM– 23 Maret 1954 hingga 23 Maret 2026 seharusnya menjadi catatan emas bagi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).
Namun, di usia yang ke-72 tahun ini, sebuah refleksi tajam muncul dari Sistim Ginting, S. Pd, Alumni UPI Bandung yang kini menjabat sebagai Anggota Kompartemen Sosial dan Bencana DPP PA GMNI.
Ia mempertanyakan, apakah peringatan Dies Natalis kali ini adalah bentuk perayaan atas kejayaan intelektual, atau justru sekadar seremoni di atas puing-puing konflik internal yang tak kunjung padam?
“Kita harus jujur pada sejarah dan diri sendiri. Dari kongres ke kongres, wajah GMNI seolah lebih akrab dengan bara konflik ketimbang bara perjuangan Marhaenisme,” ujar Sistim Ginting dalam refleksinya di Tangerang Selatan (23/03/2026).
Menurutnya, dinamika organisasi belakangan ini menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan. Alih-alih menjadi garda terdepan dalam menjawab isu-isu sosial dan bencana nasional, energi organisasi justru habis tersedot dalam pusaran dualisme dan perebutan legitimasi kekuasaan di tingkat elit.
“Dulu kita bicara bagaimana mengobarkan Api Marhaenisme untuk rakyat. Sekarang, publik justru menonton bagaimana kita memelihara Api Konflik. Apakah kita sedang merayakan kejayaan organisasi, atau sebenarnya sedang merayakan perpecahan yang kita ciptakan sendiri?” tegasnya.
Sistim Ginting mengingatkan bahwa tanpa rekonsiliasi total dan kembalinya marwah organisasi ke jalur ideologi yang murni, perayaan Dies Natalis hanya akan menjadi ritual kosong tanpa makna.
Ia mendesak seluruh elemen, mulai dari kader hingga alumni, untuk berhenti sejenak dan bercermin: apakah GMNI masih menjadi penyambung lidah rakyat, atau sekadar menjadi arena sengketa yang tak berujung.
“Selamat ulang tahun ke-72 GMNI. Semoga kita tidak sedang merayakan kehancuran secara perlahan,” pungkasnya.
(red)



