Ciputat ,parlemenbanten.com – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai NasDem Kota Tangerang Selatan sukses menyelenggarakan diskusi publik “Ngopi” (Ngobrol Pendidikan Agama Islam) di Gedung Serbaguna Villa Mutiara, Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, pada Jumat (28/08/2026) siang hingga sore. Acara yang dihadiri oleh ratusan peserta ini mengangkat tema krusial “Peningkatan Kompetensi Guru PAI di Era Digital”.
Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) dan Komisi VIII DPR RI, berkolaborasi dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Acara menghadirkan Dr. Drs. H. Wahidin Halim, M.Si. (Anggota DPR/MPR RI Fraksi Partai NasDem Komisi VIII), serta dua akademisi dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yaitu Dr. Ahmad Mustopa, M.A. dan Dr. Muhamad Rizal, M.A. (Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan). Jalannya diskusi dipandu oleh Harpa Hasigopan Siagian, S.H. (Sekretaris DPD Partai NasDem Kota Tangerang Selatan) selaku moderator, serta dihadiri langsung oleh An Daryono Wiyono, S.H. (Ketua DPD Partai NasDem Kota Tangerang Selatan sekaligus Anggota DPRD Kota Tangerang Selatan) beserta jajaran pengurus struktural.
Berdasarkan pantauan media di lokasi sejak siang hari, acara dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan pembacaan doa. Memasuki sesi pemaparan, Dr. Muhamad Rizal, M.A. yang aktif dalam pengembangan manusia dan literasi digital, menjadi pembicara pertama yang mengupas tuntas realitas dunia siber.

Rizal menyoroti derasnya arus informasi di era digital yang kerap masuk tanpa penyaringan, sehingga memicu maraknya hoaks dan upaya adu domba masyarakat melalui media.
“Kemampuan literasi digital menjadi mutlak bagi guru dan orang tua untuk memfilter informasi. Saat ini juga marak penipuan melalui kanal-kanal tautan (link). Kita harus sangat berhati-hati dan tidak gampang percaya,” ujar Rizal di hadapan ratusan peserta.Dalam konteks keluarga, Rizal memberikan perhatian khusus pada peran penting seorang ibu di era teknologi ini. Ia mengajak para ibu untuk terus belajar dan meningkatkan kapasitas diri agar tidak gagap teknologi.
“Seorang ibu zaman sekarang dituntut harus serba bisa. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak, sehingga wajib mendampingi anak-anak mereka saat belajar, termasuk dalam memperdalam belajar agama,” jelasnya. Menurutnya, pendampingan yang aktif dari orang tua adalah kunci utama perlindungan anak dari sisi gelap internet agar tidak terjerumus ke dalam dampak negatif dunia digital yang merusak.
Lebih lanjut, Rizal menyoroti fenomena anak-anak zaman sekarang yang mayoritas sudah menggenggam gawai (smartphone). Teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang kini marak digunakan siswa untuk mengerjakan tugas sekolah, bagaikan pisau bermata dua.
“Teknologi dan AI akan sangat bermanfaat jika digunakan oleh orang yang mempunyai pengetahuan sebelumnya, begitu juga sebaliknya. Jangan jadikan AI sebagai rujukan penuh. Orang tua dan guru perlu membimbing anak agar menggunakan AI secara kritis, beretika, dan tidak langsung percaya hasilnya. Didiklah anak-anak sesuai zamannya, ini sangat sejalan dengan ajaran Islam,” tegasnya.
Pembicara kedua, Dr. Ahmad Mustopa, M.A., melanjutkan pemaparan pada siang menjelang sore dengan mengajak para orang tua untuk visioner dalam merencanakan masa depan pendidikan anak setelah lulus sekolah. Ia mengingatkan pentingnya ketepatan dalam memasukkan anak ke institusi atau perguruan tinggi, baik ke fakultas terbaik seperti teknik, kedokteran, ekonomi, maupun fakultas syariah dan pendidikan agama.
Melihat realitas masa kini, Mustopa memaparkan bahwa generasi muda saat ini terbagi dalam dua kelompok dominan, yaitu Generasi Milenial dan Generasi Alfa. Karakteristik yang berbeda membuat pola pengajaran antar-generasi ini tidak boleh disamakan. Untuk melindungi Generasi Alfa yang sangat dekat dengan gawai, Mustopa memberikan rekomendasi tegas mengenai pembatasan durasi penggunaan teknologi di rumah. “Orang tua sebaiknya memberikan batasan waktu penggunaan HP kepada anak-anak, idealnya jangan lebih dari 3 jam per hari,” tambahnya.
Menutup pemaparannya, Dr. Ahmad Mustopa, M.A. tegas menyatakan bahwa dalam Islam, pondasi utama pendidikan adalah keseimbangan antara adab dan ilmu, dengan menempatkan adab sebagai prioritas yang paling utama. “Islam mengajarkan adab dan ilmu, dan yang paling utama untuk didahulukan adalah adab. Oleh karena itu, para pendidik Agama Islam (PAI) di era digital ini harus mampu menyampaikan materi pelajaran yang dibarengi dengan penanaman kaidah-kaidah agama Islam secara kuat,” tegas Mustopa.

Sebagai pamungkas, Dr. Drs. H. Wahidin Halim, M.Si. menyampaikan pemaparannya dengan bernostalgia tentang pengalamannya saat dahulu menjabat sebagai Camat Ciputat. Kini, sebagai wakil rakyat di Senayan yang duduk di Komisi VIII DPR RI, ia menjelaskan peran strategisnya dalam menjalankan fungsi penganggaran, pengawasan, dan legislasi, termasuk mengawasi 30 titik program Kementerian Agama RI.
Dalam penyampaiannya, Wahidin menyoroti tajam nasib para guru agama, khususnya guru PAI, yang kondisi kesejahteraan mereka dinilai masih belum layak. Ia mengkritisi proses sertifikasi guru yang belum kunjung beres serta kebijakan efisiensi anggaran yang terus-menerus menekan sektor pendidikan. Di sisi lain, ia juga menyinggung pentingnya optimalisasi anggaran Program Indonesia Pintar (PIP) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah bidang Agama untuk pondok pesantren.
Tidak hanya masalah eksternal, Wahidin juga memperingatkan dampak negatif digitalisasi yang nyata di masyarakat, seperti hilangnya interaksi sosial. Ia menyoroti fenomena maraknya judi online (judol), pinjaman online (pinjol), serta konten pornografi yang berseliweran bebas di dunia maya tanpa penyaringan yang dapat merusak tatanan pendidikan dan agama.
“Tantangan guru agama saat ini sangatlah berat. Sudah gajinya relatif kecil, mereka juga harus berhadapan dengan hantaman tantangan era digitalisasi. Intinya, persoalan kesejahteraan guru dan mutu pendidikan ini akan terus saya perjuangkan dan perhatikan di DPR RI,” tegas Wahidin berkomitmen menampung aspirasi masyarakat.

Acara “Ngopi” ini berlangsung sangat interaktif hingga sore hari. Memasuki sesi tanya jawab, ratusan peserta memanfaatkan momen tersebut untuk menyampaikan langsung keluh kesah mereka kepada Dr. Drs. H. Wahidin Halim, M.Si. Isu-isu sensitif seputar kendala sertifikasi guru, kejelasan status kepegawaian, hingga minimnya nominal gaji guru PAI di daerah menjadi topik utama yang mendominasi ruang diskusi.
Di akhir acara, seluruh narasumber dan panitia menyuarakan semangat bersama bahwa lewat kompetensi digital yang dibentengi nilai-nilai agama, akan lahir “Guru PAI Hebat, Generasi Berakhlak Kuat” sebagai fondasi masa depan bangsa. Sore itu, acara ditutup secara resmi dengan sesi foto bersama antara jajaran narasumber, fungsionaris DPD Partai NasDem Kota Tangerang Selatan, serta seluruh peserta yang hadir. (sg)



