JAKARTA,PARLEMENBANTEN.COM– Prahara besar resmi menghantam Badan Gizi Nasional (BGN).
Kurang dari 24 jam setelah Presiden Prabowo Subianto mencopot Prof. Dadan Hindayana dari kursi Kepala BGN pada Selasa (2/6/2026), tim penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Agung langsung bergerak cepat menggeledah kantor lembaga tersebut di kawasan Kebon Sirih.
Prof. Dadan Hindayana, seorang pakar entomologi (ilmu serangga) dari IPB, sejak awal menjadi anomali dalam kabinet.
Alih-alih menempatkan ahli gizi klinis, pemerintah justru memilih ahli perlindungan tanaman untuk mengelola program strategis Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kritikus menyebut penunjukan ini sebagai eksperimen berisiko tinggi. Benar saja, selama 1,5 tahun masa jabatannya, BGN didera berbagai isu mulai dari kontroversi kualitas menu hingga kasus keracunan massal yang mencoreng citra program unggulan Presiden.
Pencopotan Dadan bukan sekadar penyegaran birokrasi.Menurut Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Dadan dinilai gagal menjaga kedisiplinan tata kelola dan kualitas makanan sesuai standar operasional prosedur (SOP).
Namun, aroma korupsi tercium lebih tajam saat Kejagung turun tangan.Penyelidikan Kejagung diduga menyasar skandal yang lebih dalam:
1.Praktik Jual-Beli Titik Dapur: Laporan dari internal Istana mengindikasikan adanya praktik lancung dalam penentuan lokasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lapangan.
2.Penyimpangan Anggaran Operasional: Penggeledahan yang berlangsung sejak pukul 02.00 WIB dini hari tadi menyasar dokumen-dokumen pengadaan dan alokasi dana awal lembaga yang dianggap mencurigakan.
Hingga Rabu (3/6/2026) pagi, kantor BGN masih dijaga ketat oleh personel TNI bersenjata lengkap sementara penyidik mengumpulkan barang bukti.
Kabar terbaru menyebutkan bahwa Dadan Hindayana telah dijemput oleh pihak Kejaksaan untuk dimintai keterangan lebih lanjut terkait temuan awal di lapangan.
Jabatan Kepala BGN kini telah resmi beralih ke tangan Nanik S. Deyang. Publik kini menunggu, apakah pergantian nahkoda ini mampu menyelamatkan piring makan anak-anak Indonesia dari tumpukan berkas sitaan jaksa, atau justru mengungkap borok yang lebih besar di dalam “dapur” nasional. (red)



