TANGERANG SELATAN,PARLEMENBANTEN.COM – Wangi janur kelapa yang direbus mulai tercium dari dapur-dapur rumah menjelang Lebaran.
Namun, tahukah Anda bahwa ketupat bukan sekadar karbohidrat pendamping opor ayam atau sambal goreng ati? Di balik anyamannya yang rumit, tersimpan filosofi luhur warisan Sunan Kalijaga: Ngaku Lepat.
Bukan Sekadar Hidangan, Tapi Pengakuan
Secara etimologi, kata “Ketupat” dalam filosofi Jawa merupakan kependekan dari Ngaku Lepat yang berarti mengakui kesalahan. Tradisi ini mengajak setiap orang untuk berani menurunkan ego, mengakui kekhilafan, dan meminta maaf dengan tulus kepada sesama.
Anyaman janur yang silang-menyilang dan rumit melambangkan perjalanan hidup manusia yang penuh lika-liku, kesalahan, dan masalah. Namun, ketika anyaman itu dibuka, kita menemukan nasi putih yang bersih dan menyatu—simbol kesucian hati (fitrah) setelah sebulan penuh berpuasa dan saling memaafkan.
Empat Makna di Balik “Kupat”
Tak hanya Ngaku Lepat, masyarakat Jawa juga mengenal istilah Laku Papat (empat tindakan) yang menyertai perayaan Lebaran:
Lebaran: Pintu ampunan telah terbuka lebar.
Luberan: Meluber atau melimpah, simbol ajakan untuk berbagi sedekah kepada mereka yang membutuhkan.
Leburan: Melebur dosa dan kesalahan yang telah lalu melalui silaturahmi.
Laburan: Berasal dari kata kapur (labur), yang berarti menjaga kebersihan diri dan hati agar tetap putih bersih ke depannya.
Tradisi yang Tak Lekang oleh Waktu
Hingga kini, menyajikan ketupat tetap menjadi ritual wajib yang menghangatkan suasana kumpul keluarga.
Membelah ketupat di hari raya seakan menjadi simbolisasi bahwa segala kerumitan masalah dan ganjalan di hati telah “tuntas” lewat permohonan maaf yang tulus. (sg)



