Jakarta (parlemenbanten.com)-Dinamika Pra Kongres Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) XIII Tahun 2025 mulai bergulir .GMNI yang merupakan organisasi kemahasiswaan ekstra kampus yang berlandaskan ajaran Marhaenisme saat ini terpecah dua setelah hasil Kongres GMNI XII di Ambon pada tahun 2019 lalu. Kongres XII Ambon menghasilkan dualiasme yakni DPP GMNI Ketua Umum Imanuel Cahyadi dan DPP GMNI Ketua Umum Arjuna .
DPP GMNI dibawah Ketua Umum Imanuel Cahyadi sejak 2019 dibantu oleh Bendahara Umum Siti Nur Aulia atau yang lebih akrab disapa Sarinah Aulia yang berasal dari GMNI Cabang Depok. Pada tanggal 18 Februari secara mengejutkan ,beredar surat pernyataan pengunduran diri dari Bendahara Umum DPP GMNI yang beredar di kalangan GMNII dan Persatuan Alumni GMNI.
Saat dikonfirmasi parlemenbanten.com kepada yang bersangkutan mengenai kebenaran surat tersebut melalui pesan Whatsapp, Sarinah Aulia membenarkan bahwa benar surat tersebut dibuat olehnya.
Itu benar Aulia Mundur dari Bendum ? Sarinah Aulia menjawab :”Iya,benar bung ”;ungkapnya menjawan pesan Whatsapp
Dipercayanya saya menjadi Bendahara Umum Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI) oleh Ketua Umum DPP GMNI Imanuel Cahyadi, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan kebersamaan kami sebagai sesama kader, sejak sebelum Kongres XXI GMNI dilaksanakan di Kristian Center Kota Ambon.Kebersamaan tersebut, terus terjaga berkat selalu adanya hubungan kekeluargaan, komunikasi terbuka dan diskusi yang konstruktif, baik dengan Ketua Umum, maupun seluruh jajaran pengurus DPP GMNI lainnya ;tulisnya
Dalam diskusi konstruktif tersebut, kita semua tidak selalu sepaham, tetapi pasti menemukan titik temu. Keteguhan dalam kepemimpinan Ketua Umum menghadapi berbagai gejolak dalam internal pengurus DPP GMNI maupun tantangan dari luar; serta komitmen yang tinggi akan persatuan, menjadi unsur utama dari semuanya.
Perlahan, hubungan kekeluargaan, komunikasi terbuka, diskusi konstruktif dan komitmen persatuan tersebut, mulai terkikis.;ungkapnya
Beberapa point yang digaris bawahi:
1. Tidak berjalannya mekanisme formal organisasi. Hanya terselenggara satu kali Pleno DPP sejak bulan September 2023 hingga bulan Desember 2024.
2. Tidak dilibatkannya pengurus inti dalam proses pengambilan keputusan, langkah taktis, serta langkah strategis.
Inkonsistensi Ketua Umum dalam melakukan konsolidasi internal DPP GMNI ini menjadi salah satu hambatan bagi percepatan pelaksanaan agenda orgaisasi itu sendiri. Pada gilirannya, hubungan kekeluargaan dalam internal pengurus DPP GMNI, juga semakin meredup; tergantikan dengan relasi yang cenderung terasa seperti patron-klien. Akibatnya, hampir semua pengurus DPP tidak maksimal dalam mengemban tanggung jawab jabatannya masing-masing.
3. Hilangnya itikad persatuan.
Pasca Pleno DPP GMNI pada tanggal 8 Januari 2025, pernyataan Ketua Umum, berbagai informasi, dan spekulasi simpang siur yang menjurus pada mulai melemahnya komitmen akan persatuan, mulai bermunculan. Hal ini dapat dilihat misalnya dengan pernyataan keengganan Ketua Umum untuk menanggapi usaha komunikasi yang dilakukan oleh pihak yang melakukan claim atas kepengurusan yang sah (Arjuna-Dendy). Teguran terhadap pengurus yang menggalang cabang untuk menyerukan persatuan, juga sempat disampaikan. Padahal, Kongres Persatuan merupakan amanat Rapimnas XXII. Informasi tentang rencana mencaretaker-kan semua cabang yang berada pada kepengurusan Arjuna-Dendy dan tidak transparannya sumber dukungan penyelenggaraan kongres XXII, juga merupakan hal-hal dapat menggambarkan secara jelas bahwa itikad untuk menyelenggarakan kongres persatuan telah hilang.
Atas ketiga point dan uraian di atas, melalui surat ini saya menyatakan mengundurkan diri sebagai Bendahara Umum DPP GMNI. Niatan untuk mengundurkan diri dari pengurus inti DPP GMNI, sejatinya telah beberapa kali muncul. Namun, mempertimbangkan masih adanya harapan akan perbaikan dan masukan-masukan dari berbagai pihak, hal tersebut saya urungkan. Langkah ini dengan berat hati terpaksa saya ambil, mengingat upaya membangun komunikasi yang khusus maupun terbuka, khususnya terkait persatuan GMNI kedepan, tidak lagi diindahkan.;jelasnya
Demikian surat pernyataan pengunduran diri ini saya sampaikan. Sebagai kader dan pribadi saya mohon maaf, atas banyak kesalahan dan kekurangan saya selama menjadi Bendahara Umum DPP GMNI. Semoga Tuhan dan Leluhur merestui. Merdeka! ;tutupnya. (sisgin)


