TANGERANG,PARLEMENBANTEN.COM – Generasi Muda Mahasiswa Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (GEMMATAN) Kabupaten Tangerang sukses menggelar forum intelektual bertajuk “Warung Pikiran: Meracik Tanya, Menyeduh Makna” di Pondok Pesantren Nahdlatul Athfal Al-Bantani, Cisoka, Sabtu (18/04/2026).
Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari Afen Sena. Dalam keterangannya, Afen Sena mengapresiasi langkah progresif GEMMATAN yang berani membedah persoalan spiritualitas melalui kacamata ilmiah.
Menurutnya, forum seperti ini sangat krusial untuk menjawab tantangan generasi muda yang kerap merasa nilai-nilai tradisional seperti thariqah dan zikir mulai berjarak dengan realitas zaman.
“Inisiatif GEMMATAN Kabupaten Tangerang ini adalah langkah nyata dalam menjembatani kesenjangan antara tujuan spiritual dan realitas sosial. Kita perlu cara-cara segar agar generasi muda melihat agama bukan sebagai beban masa lalu, melainkan solusi masa depan,” ujar Afen Sena dalam keterangan tertulis GEMMATAN yang diterima parlemenbanten.com.
Diskusi yang berlangsung interaktif tersebut menyoroti fenomena anak muda yang ingin dekat dengan nilai agama namun merasa praktik spiritual tertentu kurang relevan.
Menanggapi hal itu, forum ini membedah persoalan menggunakan pendekatan filsafat ilmu melalui tiga pilar utama:
1. Ontologi: Memahami hakikat realitas dan posisi spiritualitas dalam kehidupan.
2. Epistemologi: Mengkaji cara memperoleh pengetahuan yang benar agar tidak terjebak dalam pemahaman yang dangkal.
3.Aksiologi: Menelaah nilai manfaat nyata dari praktik keagamaan bagi kehidupan sosial.
Afen Sena menekankan bahwa pendekatan holistik yang menggabungkan rasionalitas, spiritualitas, dan kemanfaatan (aksiologi) adalah kunci agar Islam tetap teguh di hati milenial dan Gen Z.
“Pemahaman keagamaan tidak boleh kaku. Dengan menggabungkan intelektualitas dan spiritualitas, GEMMATAN telah menunjukkan bahwa thariqah memiliki landasan filosofis yang kuat dan sangat relevan untuk menjaga kewarasan berpikir serta ketenangan batin di era modern,” pungkasnya.
Acara yang digelar di Desa Bojong Loa ini dihadiri oleh puluhan mahasiswa dan santri yang aktif mengajukan pandangan kritis terkait tantangan keislaman masa kini. (sg)



