TANGERANG SELATAN,PARLEMENBANTEN.COM – Kursi panas Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Kadispora) Tangsel kini menjadi panggung adu visi antara administrator senior dan praktisi lapangan.
Dari lima nama yang muncul dalam bursa open bidding 2026, publik menyoroti persaingan sengit antara figur yang menguasai sistem pemerintahan dengan sosok yang memahami akar rumput pendidikan.
Dilema Administrasi vs Pembinaan,
Kubu birokrat diisi oleh nama-nama kuat seperti Ali Akbar (Kabag Perencanaan & Keuangan) dan Ucok AH Siagian (Kabag Perekonomian) yang dipandang ahli dalam mengamankan “napas” organisasi melalui tata kelola anggaran dan kemitraan.
Di sisi lain, Mukroni (Camat Pamulang) dan Virgo Agustinus Sembiring (Kabid Pertanian dan Peternakan ) memiliki keunggulan dalam penguasaan wilayah dan mobilisasi massa.
Namun, kehadiran Budi Mulia (Guru Ahli Madya) memberikan warna berbeda.
Sebagai satu-satunya kandidat dari jalur fungsional pendidikan, Budi dinilai memiliki kedekatan alami dengan bibit atlet muda dan pemahaman psikologi remaja yang vital bagi pengembangan karakter pemuda.
Bukan Sekadar Jabatan Administratif,
Menanggapi komposisi kandidat ini, Ketua DPC Pemuda Demokrat Indonesia Kota Tangerang Selatan sekaligus Anggota MPI KNPI Kota Tangerang Selatan, Sistim Ginting,S.Pd, memberikan catatannya.
Menurutnya, jabatan Kadispora adalah jabatan “basah” akan interaksi sosial, bukan sekadar administrasi kantor.
“Pansel harus jeli. Jika fokusnya adalah perbaikan serapan anggaran dan tertib administrasi, figur seperti Ali Akbar atau Ucok Siagian sangat relevan.Namun, jika Tangsel ingin melakukan lompatan prestasi atlet dan pemberdayaan pemuda yang lebih menyentuh akar rumput, maka figur seperti Mukroni yang paham teritorial atau Budi Mulia yang paham dunia pendidikan bisa menjadi ‘game changer’,” ujar Sistim .
Ia menambahkan bahwa tantangan Kadispora ke depan bukan hanya soal membangun gedung olahraga, tapi membangun ekosistem.
“Siapapun yang terpilih, tantangan besarnya adalah mengawinkan birokrasi yang kaku dengan dunia pemuda yang dinamis. Jangan sampai Dispora hanya jadi ‘event organizer’ tanpa dampak jangka panjang bagi pemuda Tangsel,” tegasnya.
Ujian Akhir di Tangan Walikota,
Kini bola panas ada di tangan Panitia Seleksi dan Walikota. Apakah Dispora Tangsel akan dipimpin oleh sosok yang mahir dalam lobi anggaran, atau sosok yang paham teknis pembinaan manusia? Hasil open bidding ini akan menjadi sinyal sejauh mana komitmen Pemerintah Kota dalam memajukan indeks pembangunan pemuda di masa depan. (sg)



