Serang (parlemenbanten.com) – Peringati Hari Lingkungan Hidup (HLH) Sedunia, Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman (DPRKP) Provinsi Banten mengajak masyarakat untuk peduli lingkungan. Salah satunya dengan pembuatan lubang resapan biopori.
Lubang Resapan Biopori adalah lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah sebagai metode resapan air yang ditujukan untuk mengatasi genangan air dengan cara meningkatkan daya resap air pada tanah.
Kepala DPRKP Provinsi Banten Rachmat Rogianto mengatakan, biopori memiliki banyak manfaat bagi ekologi dan lingkungan. Lubang biopori juga dapat memperluas bidang penyerapan air, penanganan limbah organik dan meningkatkan kesehatan tanah.
“Biopori juga bermanfaat secara arsitektur lanskap, sehingga telah digunakan sebagai pelengkap pertamanan di lingkungan perumahan yang menerapkan konsep rumah hijau,” kata Rachmat, Rabu (05/06/2024).

Rachmat menjelaskan, pembuatan biopori sangat mudah, yaitu dengan membuat lubang pada tanah dan menimbunnya dengan sampah organik untuk menghasilkan kompos.
“Sampah organik yang ditimbunkan pada lubang dapat menghidupkan fauna tanah, yang seterusnya mampu menciptakan pori-pori di dalam tanah,” jelasnya.
Biopori sendiri mampu meningkatkan daya penyerapan tanah terhadap air, sehingga terjadinya penggenangan air semakin kecil terjadi.
Menurut Rachmat, air yang tersimpan dapat menjaga kelembapan tanah di musim kemarau dan keunggulan ini dipercaya bermanfaat sebagai pencegah banjir di musim penghujan.
“Dinding lubang biopori akan membentuk lubang-lubang kecil (pori-pori) yang mampu menyerap air, sehingga dengan lubang berdiameter 10 cm dan kedalaman 100 cm, dengan perhitungan geometri tabung sederhana akan didapatkan bahwa lubang akan memiliki luas bidang penyerapan sebesar 3.220,13 cm2,” ujarnya.
Rachmat menilai, tanpa biopori area tanah berdiameter 10 cm hanya memiliki luas bidang penyerapan 78 cm persegi. “Intinya, biopori juga bermanfaat untuk menjaga keberadaan air tanah dan kelestarian mata air,” ucapnya.
Teknik ini menjadi alternatif penyerapan air hujan di kawasan yang memiliki lahan terbuka namun sempit dan juga dapat meminimalisir adanya genanagn air yang mengakibatkan banjir.

Dari sisi ekologi, Rachmat mengungkapkan, lubang biopori juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana mengubah sampah organik menjadi kompos. Pengomposan sampah organik mengurangi aktivitas pembakaran sampah yang dapat meningkatkan kandungan gas rumah kaca di atmosfer.
“Jadi, setelah proses pengomposan selesai, kompos ini dapat diambil dari biopori untuk diaplikasikan ke tanaman. Kemudian biopori dapat diisi dengan sampah organik lainnya,” ungkapnya.
Biopori juga dapat meningkatkan aktivitas organisme dan mikroorganisme tanah sehingga meningkatkan kesehatan tanah dan perakaran tumbuhan sekitar. “Organisme dan mikrorganisme tanah memiliki peran penting dalam ekologi diantaranya sebagai detritivora dan pengikat nitrogen dari atmosfer,” sambungnya.
Rachmat berharap, diperingatinya Hari Lingkungan Hidup Dunia pada tanggal 5 Juni 2024 ini, masyarakat dapat membuat lubang biopori di halaman rumahnya.
“Tentunya pembuatan lubang itu jangan dilakukan di tanah yang tertutup semen, harus di halaman rumah yang memang bebas dari benda padat dan harus langsung bersentuhan dengan tanah. Apalagi banyak kegunaan dan manfaatnya, terutama di daerah rawan banjir dan rawan kekeringan,” tandasnya. (Advertorial)



