TANGERANG,PARLEMENBANTEN.COM – Front Marhaenis Kota Tangerang menggelar acara peringatan Haul Bung Karno bertajuk “Malam Renungan Sang Putra Fajar, Memperkokoh Pagar Bangsa”. Acara khidmat ini berlangsung di Hortus Coffee Cisadane, Kota Tangerang, pada Sabtu malam (20/6/2026).
Berdasarkan pantauan jurnalis parlemenbanten.com di lokasi, kegiatan ini diinisiasi oleh aliansi Front Marhaenis Kota Tangerang. Aliansi ini merupakan wadah berkumpulnya berbagai organisasi nasionalis di Kota Tangerang, yang terdiri dari: DPC GMNI Kota Tangerang — yang juga merupakan bagian dari Kelompok Cipayung, DPC PA GMNI Kota Tangerang, Pergerakan Sarinah Kota Tangerang,GSNI Kota Tangerang,Gerakan Pemuda Marhaenis Kota Tangerang,Pemuda Demokrat Indonesia Kota Tangerang dan ISRI Kota Tangerang
Secara harfiah dan ideologis, Front Marhaenis memiliki arti sebagai kesatuan barisan terdepan yang menggalang persatuan kolektif dari berbagai elemen kaum nasionalis, pelopor, dan penggerak massa yang berjuang atas dasar asas Marhaenisme ajaran Bung Karno.
Kata “Front” menegaskan sebuah benteng atau garis pertahanan kokoh yang progresif-revolusioner, sementara “Marhaenis” merujuk pada subjek pejuang yang membela hak-hak rakyat kecil (kaum marhaen) agar terbebas dari jerat kapitalisme, imperialisme, dan penindasan sosial. Dengan demikian, Front Marhaenis diartikan sebagai wadah peleburan kekuatan politik, intelektual, dan gerakan kultural lintas generasi untuk secara bersama-sama mengawal keadilan sosial, merawat kemandirian bangsa, serta membumikan Pancasila di akar rumput.
Persamaan mendasar yang mengikat erat GSNI, GMNI, PA GMNI, Pergerakan Sarinah, Gerakan Pemuda Marhaenis, Pemuda Demokrat Indonesia, hingga ISRI ke dalam satu ikatan Front Marhaenis adalah kesamaan Ruh Ideologi (Asas Marhaenisme), Kiblat Historis (Ajaran Bung Karno), serta Komitmen Perjuangan (Keberpihakan pada Rakyat Miskin).
Meskipun bergerak di klaster fungsional yang berbeda, mulai dari segmen pelajar, mahasiswa, alumni, pergerakan perempuan, kepemudaan, hingga kaum sarjana—seluruh organisasi ini mengemban visi kembar yang sama.
Pertama, secara konsisten mengawal serta menegakkan ideologi Pancasila 1 Juni 1945 sebagai dasar tunggal bangsa. Kedua, berjuang mewujudkan cita-cita Sosialisme Indonesia, yaitu sebuah tatanan masyarakat yang adil dan makmur, tanpa adanya penindasan manusia atas manusia lainnya (exploitation de l’homme par l’homme) serta penindasan bangsa atas bangsa lainnya (exploitation de l’nation par l’nation). Kesamaan historis dan ideologis inilah yang menyatukan gerak langkah mereka dalam satu rampak barisan nasionalis yang solid di Kota Tangerang.
Kiprah Front Marhaenis Kota Tangerang sebagai aliansi lintas generasi dikenal sangat strategis dalam menjaga api ideologi Pancasila dan ajaran Bung Karno di Kota Tangerang. Melalui integrasi berbagai elemen, aliansi ini memiliki rekam jejak yang solid: DPC GMNI Kota Tangerang sebagai motor penggerak intelektual mahasiswa Kelompok Cipayung konsisten mengawal nalar kritis akademisi, didukung oleh DPC PA GMNI yang mengonsolidasikan potensi alumni lintas profesi untuk pembangunan daerah.
Di sektor penguatan gender dan regenerasi, Pergerakan Sarinah aktif mengadvokasi hak perempuan, sementara GSNI hadir menanamkan jiwa nasionalisme sejak dini di tingkat pelajar.
Dinamika kepemudaan dan kemasyarakatan diperkuat oleh gerakan taktis Gerakan Pemuda Marhaenis bersama Pemuda Demokrat Indonesia yang konsisten menjaga basis marhaenis akar rumput, serta ditopang oleh pemikiran strategis ISRI sebagai wadah para sarjana dan cendekiawan nasionalis dalam merumuskan solusi berbasis riset atas isu kemasyarakatan di Kota Tangerang.

Tema “Malam Renungan Sang Putra Fajar, Memperkokoh Pagar Bangsa” yang diusung dalam Haul ini membawa makna filosofis yang sangat mendalam bagi refleksi kebangsaan hari ini. Frasa “Malam Renungan Sang Putra Fajar” diartikan sebagai momentum sakral untuk menjeda rutinitas, berkontemplasi, dan menyelami kembali kedalaman pemikiran, dedikasi, serta api perjuangan Bung Karno yang lahir di saat fajar menyingsing sebagai pembawa harapan baru bagi Indonesia.
Sementara itu, kiasan “Memperkokoh Pagar Bangsa” mengandung makna esensial tentang komitmen kolektif aliansi untuk menjadikan ideologi Pancasila dan semangat persatuan lintas elemen sebagai benteng pertahanan yang kuat. Pagar bangsa ini dirawat dan diperkokoh agar generasi muda tidak goyah di tengah gempuran arus globalisasi, polarisasi sosial, maupun ancaman ideologi asing yang berpotensi merongrong keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Malam refleksi ini sekaligus menjadi ruang reaktualisasi semboyan historis “Pemikir-Pejuang, Pejuang-Pemikir” yang melekat erat pada ruh gerakan fungsional nasionalis Marhaenis. Karakter “Pemikir-Pejuang” menuntut setiap kader untuk memiliki landasan intelektual yang kuat, tajam dalam menganalisis ketimpangan sosial, serta berwawasan luas sebelum melangkah ke medan aksi.
Sebaliknya, karakter “Pejuang-Pemikir” menegaskan bahwa segala bentuk basis pemikiran, gagasan, dan teori keilmuan yang dimiliki tidak boleh mandek di atas menara gading akademis, melainkan harus dipraktikkan langsung di lapangan untuk membela kaum marhaen. Sintesis dari kedua nilai ini melahirkan sosok aktivis seutuhnya yang bergerak secara terukur, tidak asal bertindak tanpa nalar ilmiah, dan tidak sekadar berwacana tanpa kontribusi konkret bagi masyarakat.
Gema nasionalisme di lokasi acara kian membakar semangat saat pekikan salam khas Marhaenis berkumandang: “Merdeka!, GMNI Jaya!, Marhaen Menang!”. Rangkaian salam ini bukan sekadar yel-yel seremonial, melainkan kristalisasi arah perjuangan organisasi.
Pekikan “Merdeka!” menegaskan komitmen mutlak untuk menjaga kedaulatan bangsa seutuhnya—merdeka dari penjajahan fisik, ketergantungan ekonomi, maupun hegemoni budaya asing.
Salam “GMNI Jaya!” menjadi ikrar kerakyatan agar wadah pergerakan ini terus eksis, bertumbuh, dan memenangkan gagasan kebangsaan di ruang-ruang intelektual.
Sementara itu, puncaknya pada seruan “Marhaen Menang!” membawa pesan ideologis tertinggi, yakni sebuah cita-cita besar di mana rakyat kecil, kaum tertindas, buruh, tani, dan nelayan miskin harus mencapai tingkat kesejahteraan yang berkeadilan, terbebas dari sistem yang memiskinkan, serta menjadi tuan di tanah airnya sendiri.

Acara resmi dibuka oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Tangerang, Teguh Supriyanto, S.Sos., M.AP., yang hadir memberikan sambutan hangat sekaligus membuka jalannya prosesi malam renungan. Dalam kiprah birokrasinya, Teguh Supriyanto dikenal sebagai pejabat yang sangat akomodatif dan konsisten mendukung ruang kemitraan strategis dengan organisasi kepemudaan serta kemasyarakatan. Di bawah kepemimpinannya, Badan Kesbangpol Kota Tangerang aktif menstimulus penguatan wawasan kebangsaan, memelihara kondusivitas sosial, serta merawat toleransi keagamaan guna memastikan stabilitas dan semangat gotong royong tetap terjaga di tengah kemajemukan masyarakat Kota Tangerang.
Semangat nasionalisme makin terasa saat Ketua DPC GMNI Kota Tangerang Elwin Mendrofa, Ketua DPC PA GMNI Kota Tangerang Muhammad Toha, S.Pd.I., Ketua Pemuda Demokrat Indonesia Kota Tangerang Dede Hardian, Ketua Pergerakan Sarinah Kota Tangerang Sarinah Mia, serta Ketua DPD KNPI Kota Tangerang Dede Maulana Paisal, S.H., M.H. menyampaikan pidato sambutan mereka di hadapan ratusan kader dan alumni GMNI yang memadati lokasi.
Sebagai nakhoda baru DPC GMNI Kota Tangerang, Elwin Mendrofa dikenal sebagai aktivis mahasiswa yang visioner dan progresif dalam memimpin roda organisasi. Kiprahnya berfokus pada penguatan kaderisasi ideologis berbasis Marhaenisme, sekaligus konsisten mengawal isu-isu kerakyatan dan sosial kemasyarakatan di Kota Tangerang. Di bawah kepemimpinannya, GMNI Kota Tangerang aktif membangun ruang-ruang intelektual bagi mahasiswa untuk menjaga nalar kritis demi terwujudnya tatanan sosial yang berkeadilan.
Sementara itu, Muhammad Toha, S.Pd.I. selaku Ketua DPC PA GMNI Kota Tangerang juga dikenal sebagai sosok pemimpin yang aktif mengonsolidasikan potensi para alumni GMNI di Kota Tangerang agar terus berkontribusi nyata dalam pembangunan daerah. Di bawah komandonya, persatuan alumni gencar merawat ruang dialog kebangsaan serta konsisten menjadi jembatan sinergi yang kokoh antara gerakan mahasiswa, kaum intelektual marhaenis, dan jajaran birokrasi pemerintahan demi kemaslahatan masyarakat.
Di sisi lain, kiprah Dede Hardian sebagai Ketua Pemuda Demokrat Indonesia Kota Tangerang dikenal sangat konsisten dalam merawat basis pemuda marhaenis akar rumput. Beliau aktif menggerakkan roda organisasi pemuda nasionalis ini melalui program sosial kemasyarakatan, advokasi pemuda, serta memperkuat solidaritas lintas organisasi kebangsaan guna membentengi generasi muda Kota Tangerang dari arus ideologi yang memecah belah bangsa.
Tak kalah penting, kiprah Sarinah Mia sebagai Ketua Pergerakan Sarinah Kota Tangerang menonjol dalam hal penguatan peran perempuan nasionalis di ruang publik. Beliau aktif mengedukasi serta mendorong keterlibatan kader perempuan dalam pergerakan sosial-politik, mengawal hak-hak perempuan dan anak di Kota Tangerang, serta memastikan bahwa nilai-nilai kemandirian perempuan yang diajarkan oleh Bung Karno tetap hidup dalam sanubari setiap Sarinah modern.
Sinergi pemuda ini diperkuat oleh kiprah Dede Maulana Paisal, S.H., M.H. selaku Ketua DPD KNPI Kota Tangerang. Di bawah kepemimpinannya, KNPI sukses menjadi payung besar yang menyatukan berbagai Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) di Kota Tangerang. Beliau konsisten mendorong kolaborasi strategis, kemandirian wirausaha pemuda, serta pembentukan karakter generasi muda yang adaptif terhadap teknologi namun tetap memegang teguh komitmen menjaga persatuan bangsa dan keutuhan NKRI.
Suasana toleransi beragama terlihat sangat kental melalui kehadiran para perwakilan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Tangerang yang mencakup enam agama resmi. Secara bergantian, doa khusus dipimpin oleh Drs. KH. Amin Munawar (Islam), Pdt. Jaya Sianturi (Kristen), Romo Stefanus Suwarno, OSC / Rafael Udik Yunianto (Katolik), Maha Pandita T. Harmanto (Buddha), I Ketut Sudana (Hindu), serta Rudi Guna Wijaya (Konghucu). Mereka memimpin doa demi kedamaian bangsa menurut keyakinan masing-masing. Pihak kepolisian juga turut mengawal jalannya acara yang diwakili oleh Kasat Intelkam Polres Metro Tangerang Kota, Kompol Dodi Abdulrohim, S.Sos., M.Krim., mewakili Kapolres.

Kehadiran para tokoh lintas struktural dan fungsional kebangsaan di lokasi acara semakin mempertegas komitmen gotong royong dan pengabdian dari jajaran panitia serta undangan.
Kiprah Abdur Rozak selaku Wakil Ketua Umum DPP GMNI menjadi cerminan kontribusi strategis kader asal Tangerang di kancah panggung kepemimpinan nasional. Di lini alumni dan pemuda pusat, kiprah Sistim Ginting, S.Pd. secara nyata menyelaraskan gerakan kemanusiaan melalui Kompartemen Sosial dan Bencana DPP PA GMNI sekaligus merajut jejaring strategis pemuda sebagai Wakil Bendahara Umum DPP KNPI.
Dukungan politik dari parlemen pun hadir lewat kiprah Andri Septiawan Permana, S.Sos., M.AP. yang dalam kapasitasnya sebagai Wakil Ketua I DPRD Kota Tangerang terus konsisten mengawal kebijakan daerah pro-rakyat serta mengadvokasi ruang berekspresi positif bagi organisasi kepemudaan.
Di barisan penataan internal, kiprah Uis Adi Dermawan, S.Sos. berjalan selaras dalam menjaga stabilitas keuangan organisasi sebagai Bendahara DPC PA GMNI Kota Tangerang sekaligus mematangkan arah kebijakan pemuda senior melalui posisinya sebagai Ketua Majelis Pemuda Indonesia DPD KNPI Kota Tangerang.
Dari sisi pengawasan pemilu dan demokrasi, kiprah Supri Andriani, S.E., Sy. sebagai Koordinator Divisi Hukum dan Penyelesaian Sengketa Bawaslu Kota Tangerang senantiasa konsisten menegakkan pilar keadilan pemilu dan edukasi politik yang sehat di wilayah administrasi Kota Tangerang.
Sementara itu, kelancaran roda organisasi dan administrasi internal Front Marhaenis ini didukung penuh oleh kiprah taktis Diah Ayu Setyorini, S.Ak. selaku Sekretaris DPC PA GMNI Kota Tangerang, serta bimbingan moril dan transfer pengetahuan ideologis dari kiprah Yusrianto selaku tokoh alumni sekaligus Senior GMNI yang dihormati di Tangerang.
Menjelang akhir acara, suasana malam renungan menjadi semakin syahdu dengan penampilan dari musisi Fajar Merah, yang merupakan putra dari sastrawan sekaligus aktivis legendaris Wiji Thukul, sebagai bintang tamu utama. Alunan musik dan puisi yang dibawakannya berhasil menyentuh hati para peserta untuk refleksi kembali perjuangan serta pemikiran Sang Proklamator, Bung Karno, dalam menjaga keutuhan NKRI. (system



