TANGERANG SELATAN, PARLEMENBANTEN.COM – Suhu politik di lingkungan Pemerintah Kota Tangerang Selatan mendadak “mendidih”.
Proses seleksi terbuka (open bidding) untuk posisi Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Kadispora) tahun 2026 kini memasuki fase krusial.
Lima nama besar muncul ke permukaan, memicu spekulasi liar mengenai siapa yang bakal dipilih oleh Wali Kota Benyamin Davnie dan Wakil Wali Kota Pilar Saga Ichsan untuk mengeksekusi anggaran kepemudaan dan keolahragaan yang fantastis.
Pertarungan ini bukan sekadar adu gelar, melainkan adu rekam jejak dan pengaruh strategis:
Mukroni (Camat Pamulang):
Dikenal sebagai “Panglima Wilayah”, Mukroni membawa modal kuat dalam manajemen akar rumput. Pengalamannya mengelola kecamatan tersibuk di Tangsel menjadikannya kandidat yang sulit diremehkan dalam hal penguasaan massa pemuda.
Ucok A.H. Siagian (Kabag Perekonomian):
Sosok yang lihai dalam membangun jejaring. Mantan Sekretaris Disnaker ini dipandang punya “kartu as” dalam menggaet sektor swasta melalui CSR untuk mendanai ekosistem olahraga tanpa harus melulu menyusu pada APBD.
Virgo Agustinus Sembiring (Kabid Pertanian & Peternakan):
Datang dengan latar belakang teknis yang kuat, Virgo membawa perspektif pemberdayaan sumber daya. Inovasinya dalam pengelolaan sarana olahraga sangat dinanti, meski ia harus membuktikan diri di luar sektor ketahanan pangan.
Ali Akbar (Kabag Perencanaan & Keuangan):
Sang “Arsitek Anggaran”. Kekuatannya ada pada tata kelola keuangan yang transparan. Di tengah sorotan publik terhadap akuntabilitas Dispora, Ali Akbar adalah simbol “keamanan” anggaran yang dibutuhkan pemerintah.
Budi Mulia (Guru Ahli Madya):
Representasi dunia pendidikan yang memahami karakter pemuda dari sisi fundamental. Kehadirannya dianggap sebagai “kuda hitam” yang bisa saja merusak skenario para pejabat birokrasi murni.
Di sisi lain, desakan dari organisasi kepemudaan seperti DPD KNPI Kota Tangsel makin kencang. Mereka menuntut proses ini bebas dari “titipan” kepentingan tertentu dan mendesak agar Kadispora baru tidak hanya terjebak dalam kegiatan seremonial belaka.
Publik kini bertanya-tanya: apakah Panitia Seleksi (Pansel) benar-benar akan memilih berdasarkan kompetensi progresif, atau justru terjebak pada kompromi politik?
Satu yang pasti, siapa pun yang terpilih akan langsung mewarisi tugas berat meningkatkan prestasi atlet Tangsel di tingkat nasional sekaligus meredam isu-isu miring yang sempat menyenggol internal Dispora baru-baru ini. (sg)



