Jakarta (parlemenbanten)– Dalam rangka agenda strategis Youth Policy Brief: Youth Action for Green Economy and Climate Resilience Toward COP-30 yang diselenggarakan di Gedung MPR RI bersama Emil Salim Institute, suara anak muda Tangsel disoroti sebagai pilar penting dalam mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan dan berketahanan iklim.
Salah satu delegasi pemuda, Yohanes Togatorop, menyampaikan usulan kebijakan yang mendesak pemerintah untuk mengintegrasikan solusi ketahanan pangan berbasis komunitas dan ramah lingkungan sebagai bagian fundamental dari transisi menuju Green Economy.

Yohanes Togatorop, yang berfokus pada isu Food Security (Ketahanan Pangan), menekankan bahwa solusi jangka panjang terhadap krisis iklim harus dimulai dari dapur dan lahan masyarakat.
“Kami mengusulkan perlunya [Program Sentra Pangan Lestari Pemuda] yang berfokus pada “Adopsi pertanian regeneratif dan sistem rantai pasok pangan zero-waste ; ujar Yohanes.
“Anak muda harus ditempatkan sebagai agen perubahan, bukan hanya objek. Dengan dukungan regulasi dan pendanaan yang tepat, kami mampu menciptakan sistem pangan yang tangguh terhadap perubahan iklim dan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi hijau di tingkat tapak.” ujar Yohanes
Usulan Yohanes ini menyentuh empat pilar utama kebijakan yang dibahas dalam Policy Brief tersebut yakni Energi Terbarukan, Waste & Circular Economy, Food Security, dan Biodiversity.
Secara spesifik untuk sektor pangan, usulan tersebut mencakup:
1. Penguatan Urban Farming & Micro-Farming: Memberikan insentif bagi masyarakat perkotaan dan perdesaan untuk memanfaatkan lahan sempit dengan teknologi pertanian cerdas dan rendah karbon.
2. Edukasi dan Implementasi Zero-Waste Food System: Mengurangi food loss dan food waste melalui edukasi, manajemen logistik, dan teknologi pengolahan sisa pangan.
3. Investasi pada Teknologi Pangan Lokal Berbasis Kearifan Iklim: Mengembangkan dan mendanai riset bibit unggul lokal yang tahan cuaca ekstrem dan memperkuat peran petani muda.
Agenda Youth Policy Brief ini bertujuan mengumpulkan gagasan konkret dari generasi muda untuk diserahkan kepada para pengambil keputusan jelang Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim PBB (COP-30).
Yohanes Togatorop menegaskan “Pemerintah harus berani berinvestasi pada masa depan, dan masa depan itu ada pada ketahanan pangan berbasis inovasi pemuda. Ketahanan pangan adalah kunci kedaulatan kita.”
(sg)



